Blog Entry1. Pagi Hari di Bumi Rafflessia (revisi)Nov 11, '09 2:35 AM
for everyone

            Fajar di ufuk timur mulai manampakkan diri. Bulan dan bintang mulai terlihat samar berganti dengan warna merah matahari. Suara-suara binatang pagi mulai bersahutan dan suara ombak yang terdengar sayup-sayup membentuk sebuah orkestra alam yang sungguh menakjubkan. Tetes-tetes embun pagi dari ujung dedaunan yang terkena sinar fajar menambah semarak suasana. Hawa dingin masih menyelimuti bumi Rafflesia, menghembuskan auranya menembus dinding-dinding rumah, menusuk tulang para penghuninya. Bunga-bunga pun mulai bermekaran menyambut datangnya hari baru.

 Demikian pula bunga Rafflessia Arnoldi, bunga raksasa yang menjadi ciri khas kota Bengkulu. Di bulan Oktober tahun ini bunga Rafflessia mekar sempurna, tampak indah dengan kelopak bunganya yang mencapai diameter delapan puluh sentimeter. Selain ukurannya yang cukup besar, Rafflesia Arnoldi memiliki keunikan disekeliling bunganya berwarna merah dan dihiasi bintik-bintik putih, jumlah kelopaknya hanya lima. Biasanya, Rafflesia yang mekar bisa bertahan hingga 20 hari.

Sebetulnya kota Bengkulu memiliki sekitar delapan puluh tempat wisata yang terdiri dari pantai, air dan tempat-tempat bersejarah. Namun dalam setiap kali pembicaraan dengan turis dari manca negara yang datang ke daerah itu, rata-rata mereka ingin melihat secara langsung flora langka yang pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jenderal Thomas Raffles dan dokter pribadinya, Arnoldi itu. Begitupun para tamu resmi dari baik nasional maupun luar negeri ketika berkunjung ke Bengkulu ingin melihat Rafflesia Arnoldi, selain mengunjungi tempat wisata lainnya.

 Diantara tamu-tamu mancanegara yang sangat tertarik dengan keindahan bunga Rafflessia adalah Dubes Singapura untuk Indonesia Ashok Mirpuri yang datang ke provinsi itu pada 5 Juni 2008, juga melihat bunga langka tersebut.

 

*   *   *

 
 
Dalam kondisi dingin selepas shubuh, bagi kebanyakan orang tentu lebih memilih untuk tetap bertahan di tempat tidur mereka, menarik selimut dan tidur kembali. Mereka tidak menyadari betapa indahnya alam pagi hari, betapa sejuk udara pagi, betapa banyak karunia Allah yang diberikan di waktu pagi…

 Namun tidak demikian bagi lima orang pemuda dan satu orang yang terlihat lebih tua dari mereka. Mereka berkumpul di salah satu ruangan sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu terlihat belum selesai dibangun meskipun sudah terlihat agak lama. Ini terlihat dari dinding rumah yang belum dilapisi semen, masih terlihat susunan batu bata merah. Rumah itu memiliki tiga kamar yang semuanya ada di sisi kanan. Sedang di sisi kiri ada ruang tamu, ruang tengah sekaligus ruang makan, dapur dan satu kamar mandi. Keenam orang tersebut duduk melantai dan melingkar di kamar depan yang bersebelahan dengan ruang tamu. Sebetulnya kurang tepat jika disebut kamar, karena disana tidak ada tempat tidur. Yang ada hanya selembar karpet hijau, papan tulis dan spidol, serta buku-buku yang disusun rapi di rak.

 Kelima pemuda tersebut terlihat khusyu' mendengarkan kajian al quran yang diberikan oleh salah satu dari mereka..yang terlihat lebih tua, pak Eko.

"Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190-191:

sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka emikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka". Kata pak Eko membacakan tafsir Al quran..

 Kemudian beliau melanjutkan "apakah tanda-tanda yang terdapat di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang itu? Apakah tanda-tanda yang terlihat oleh ulul albab ketika merenungkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang di saat mereka mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring? Apa hubungannya perenungan tentang tanda-tanda ini dengan dzikrullah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring? Bagaimana mereka bisa sampai dari perenungan ini kepada doa yang khusyu' dan bergetar:

'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka'.

 Pak Eko masih melanjutkan: "Ungkapan ini melukiskan gambaran hidup dari penerimaan yang benar terhadap sentuhan-sentuhan kosmik dalam kesadaran yang benar, dan gambaran hidup dari respon yang benar terhadap sentuhan-sentuhan yang dihadapkan kepada pandangan dan pikiran tentang inti kosmik di waktu siang dan malam.

 Al quran berkali-kali dan berulang-ulang mengarahkan hati dan pandangan kepada kitab yang terbuka ini, yang setiap kali lembaran-lembarannya disingkap selalu memperlihatkan tanda yang menggugah dan membangkitkan di dalam fitrah yang sehat suatu kepekaan terhadap kebenaran yang terdapat di dalam lembaran-lembaran kitab ini dan di dalam desain bangunan ini. Juga membangkitkan keinginan untuk memberikan respon kepada pencipta ciptaan ini dan Pembuat kebenaran ini, disamping mencintai-Nya dan takut kepada-Nya pada waktu yang sama!

 Ulul albab…orang yang memiliki kesadaran yang benar membuka mata hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah, tanpa memasang berbagai penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri mereka dan ayat-ayat tersebut. Mereka menghadap kepada Allah dengan hati mereka dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, lalu mata hati dan kesadaran mereka terbuka kemudian tersambung dengan hakikat alam kosmik yang diciptakan Allah untuknya, dan menyadari tujuan eksistensinya, latar belakang pertumbuhannya dan mengangkat fitrahnya. Dengan ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan hukum-hukum alam wujud ini.

 Pemandangan langit dan bumi, demikian pula pergantian malam dan siang. Jika kita perhatikan dengan mata hati dan kesadaran kita. Jika kita tatap sebagai pemandangan yang baru pertama kali dilihat oleh mata. Jika kita jauhkan perasaan kita dari ketumpulan akibat pengulangan dan keterbiasaaan…niscaya mata hati dan segenap perasaan kita akan bergetar karenanya. Niscaya kita akan merasakan bahwa dibalik sistem itu pasti ada kecerdasan yang menata, bahwa dibalik kecermatan itu pasti ada hukum-hukum yang tidak menyimpang…dan bahwa semua itu tidak mungkin terjadi karena pengelabuan, tidak mungkin terjadi karena kebetulan, dan tidak mungkin terjadi secara sia-sia.

 Tidak akan mengurangi ketergetaran kita oleh pemandangan kosmik yang indah itu jika kita mengetahui bahwa siang dan malam adalah dua fenomena yang terjadi karena perputaran bumi di seputar dirinya di hadapan matahari. Demikian pula jika mengetahui bahwa keharmonisan langit dan bumi terpulang karena adanya gravitasi atau selain gravitasi… Itu semua adalah asumsi yang bisa benar dan bisa salah. Dalam kedua keadaan tersebut tetap tidak akan mempengaruhi tatapan akan keindahan kosmik ini dan adanya hukum-hukum yang sangat cermat yang mengatur dan menjaganya. Hukum-hukum ini –apapun namanya di kalangan para peneliti- adalah tanda kekuasaan dan tanda kebenaran dalam pencipaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang.

 Konteks al quran di sini menggambarkan secara cermat tahap-tahap gerakan jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang di dalam perasaan ulul albab. Dan pada saat yang sama merupakan penggambaran yang sangat inspiratif, yang mengalihkan hati kepada metode yang benar dalam berinteraksi dengan alam, dalam 'berbicara' kepadanya dengan bahasanya, dalam penyesuaian dengan fitrah dan hakikatnya, dan dalam menagkap isyarat-isyaratnya. Konteks ini juga menjadikan kitab alam yang terbuka ini sebagai kitab 'pengetehuan' bagi mu'min yang bersambung dengan Allah dan dengan apa yang diciptakan oleh tangan Allah.

 Konteks ini menggabungkan antara perenungan tentang makhluk ciptaan Allah dan ibadah kepadanya: …"sambil berdiri, duduk dan berbaring…"..dengan perenungan tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan menjadikannya sebagai bagian dari manifestasi dzikir. Penggabungan antara kedua gerakan ini mengisyaratkan dua hakikat penting:

 Pertama, bahwa perenungan tentang ciptaan Allah, tadabur tentang kitab alam yang terbuka, pencermatan terhadap tangan Allah yang maha mencipta…adalah merupakan ibadah yang sejati kepada Allah dan dzikir yang utama kepada-Nya. Sekiranya ilmu-ilmu kauniyah yang mempelajari penciptaan alam, hukum-hukum dan undang-undangnya, berbagai potensi dan kekayaannya, berbagai rahasia dan perbendaharaannya… Sekiranya ilmu-ilmu ini dipadu dengan mengingat pencipta alam ini serta merasakan keagungan dan karunia-Nya niscaya spontan akan beralih menjadi ibadah dan sholat kepada pencipta alam ini. Niscaya kehidupan akan tegak –dengan ilmu-ilmu ini- dan mengarah kepada-Nya.

 Kedua, bahwa ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat secara jelas sesuai hakikatnya yang sarat inspirasi, kecuali oleh hati yang senantiasa berdzikir dan beribadah. Dan, bahwa orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring itu –ketika merenungkan tentang peciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang- adalah orang-orang yang mata hatinya terbuka untuk melihat berbagai hakikat besar yang terkandung di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang.

 Keduanya adalah hal yang saling berkaitan, yang dipaparkan oleh gambaran yang dilukiskan al quran kepada ulul albab pada saat menerima, merespon dan berkomunikasi. Engkau tidak menciptakan alam ini dengan sia-sia, tetapi untuk menjadi kebenaran. Kebenaran adalah penopangnya. Kebenaran adalah undang-undangnya. Kebenaran adalah inti dasarnya. Sesungguhnya alam ini memiliki hakikat, Karena ia bukan nothing sebagaimana dikatakan oleh sebagian filosof. Ia berjalan sesuai undang-undang, tidak dibiarkan kacau balau. Ia berjalan untuk satu tujuan, tidak diserahkan kepada kebetulan. Dalam eksistensi, gerakan dan tujuannya ia diatur dengan kebenaran tanpa terkontaminasi oleh kebatilan…”.

"saya kira kita cukupkan dulu kajian kita hari ini, insyaAllah pekan depan kita lanjutkan, ya…," kata pak Eko menutup kajian pagi itu.

 Sebetunya pak Eko adalah seorang guru SMP dan juga muallaf. Usianya sekitar 35 tahun. Ia masuk Islam sejak menikah dengan seorang guru agama Islam di salah satu SD Negeri, 10 tahun yang lalu. Beliau menyelesaian sarjana S1 di Universitas Bengkulu, jurusan Bahasa Indonesia. Namun sejak beliau masuk Islam, beliau sangat rajin dan tekun belajar Islam. Hampir semua kyai dan ustadz yang ada di Bengkulu ia datangi untuk belajar. Bahkan beliau pernah 2 tahun nyantri di salah satu pondok pesantren yang ada di Bengkulu. Kedalaman dan keluasannya memahami ajaran agama, juga hafalan al qurannya yang lebih dari 10 juz menjadikannya rujukan bagi kebanyakan mahasiswa di Bengkulu juga masyarakat sekitar.

"oh ya Adnan, bagaimana rencana agenda mukhoyam kita? Jadi ke bukit Barisan kan?" tanya pak Eko.

"Iya, pak. InsyaAllah jadi. Dan dari sana kita akan ke danau Tes di Lebong," jawab Adnan.

"Subhanallah…tapi yang lainnya gimana? kalian sudah selesai ujian, kan?" Tanya pak eko kepada keempat lainnya.

"InsyaAllah pekan depan teman-teman sudah selesai ujian semua, tadi saya sudah tanya ke teman-teman," jawab Adnan lagi.

 Adnan memiliki usia yang paling tua dibandingkan keempat teman-temannya dan orang asli Bengkulu. Nama lengkapnya Adnan Syarqowi. Orang tuanya memiliki kebun karet yang sangat luas di hutan, sehingga sejak kecil ia sudah terbiasa keluar-masuk hutan. Setelah menamatkan kuliah di fakultas kehutanan, setahun yang lalu, ia langsung bekerja di Dinas Perhutani Propinsi Bengkulu. Karena dianggap yang paling menguasai medan Bukit Barisan, maka ia ditunjuk sebagai ketua tim dalam rencana tafakur alam nanti.

"iya pak, insyaAllah pekan depan sudah pada selesai ujian. Kalau saya malah udah sidang kemarin," kata Nardi menguatkan.

 Muhammad Sunardi, oleh teman-temannya sering dipanggil Nardi. Orang jawa dengan logat medok dan suka bercanda ini memiliki tubuh yang kecil dan berkulit agak hitam. Namun demikian, ia memiliki keahliah bela diri pencak silat yang luar biasa. Sabuk hitam sudah ia dapatkan dari padepokan pencak silat tradisional yang ada di kampungnya. Pernah suatu hari ia dikeroyok oleh 3 orang yang memiliki tubuh besar dan mencoba merampoknya. Dengan kemampuan silatnya, ia berhasil mengalahkan para perampok itu dengan tangan kosong dan sendirian. Saat ini ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Hazairin Bengkulu.

“oh ya, bagaimana hasil sidangnya? Sukses?”

“Alhamdulilllah masih ada yang harus diperbaiki, pak. Tapi ndak buru-buru. Lha wong sekarang dosen pembimbing saya malah mau ke luar negeri. Katanya mau ikut pendidikan 2 bulan di Qatar, trus mau lanjut naik haji. Ya udah, jadinya pulangnya Desember nanti. Makanya saya ndak buru-buru nyelesaiin skripsi. Itung-itung sambil nemenin Falah di kosan nyelesaiin skripsinya, pak..hehe,” jawab Nardi seperti biasa.

 Mendengar itu, pak Eko hanya tersenyum. Sejak setahun terakhir Nardi memang satu kos dengan Falah, meskipun mereka tidak satu kampus.

“Kalau kamu, Falah, bagaimana skripsimu? Apa sudah rampung?” tanya pak Eko lagi.

“InsyaAllah dalam tahap penyelesaian. Tinggal menyelesaikan bab 5 saja pak, mohon doanya. Tapi saya daftar sidang akhir semester nanti saja, sambil sekalian menyelesaikan amanah saya di BEM, jadi masih bisa disela karena tidak terburu-buru,” jawab Falah dengan penuh keyakinan.

 Orang yang dipanggil Falah itu sebetulnya memiliki nama Fatahillah Zanky. Namun teman-temannya memanggilnya Falah. Biar mudah kata mereka. Ia berasal dari keluarga tentara. Ayahnya adalah purnawirawan Angkatan Darat berpangkat akhir kolonel. Namun hal itu tidak membuat ia besar kepala. Sikapnya yang tetap santun kepada semua orang dan kebiasaannya suka menolong orang lain, membuat ia banyak disukai oleh teman-teman di kampusnya. Saat ini, di saat-saat akhir kuliahnya di jurusan fisika, ia masih dipercaya menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univrersitas Bengkulu (UNIB), padahal ia sudah semester 9! UNIB merupakan satu-satunya Universitas Negeri di provinsi Bengkulu. Selain masuk daftar 50 universitas terbaik Indonesia versi DIKTI, Universitas ini juga memiliki area yang dianggap terluas se-Asia Tenggara. Banyak mahasiswa dari berbagai wilayah provinsi tetangga yang juga menimba ilmu disini.

 “Kapan berakhirnya kamu jadi ketua BEM?” tanya pak Eko lagi.

“InsyaAllah bulan November nanti”

“Hmm…tinggal sebulan lagi. Artinya sekarang sedang masa pemilihan ketua yang baru. Siapa calon penggantinya?”

            “Iya, pak. InsyaAllah sudah ada, dan orangnya juga baik, aktivis masjid kampus juga. Sekarang sedang masa persiapan kampanye. Kalau tidak ada halangan, insyaAllah 3 pekan lagi pemilihan.”

        “Alhamdulillah kalau begitu. Kalau organisasi BEM dipimpin oleh aktivis masjid, insyaAllah tidak akan dijadikan sebagai tempat untuk hura-hura, dan keuangannya pun bisa digunakan dengan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan bersama. Kalau kamu Kamto, Sony? Apa benar pekan depan sudah selesai ujiannya?” tanya pak Eko lagi.

 Orang yang dipanggil Kamto itu menjawab: “iya pak. Ujian saya terakhir senin besok. Tapi setelah itu saya mau pulang dulu. Bapak saya yang suruh. Kata beliau akan ada pertandingan volly antar RW, dan saya diminta untuk jadi wasitnya. Tapi InsyaAllah Kamis sore sudah bisa balik ke kosan lagi.”

 Sebetulnya nama lengkap Kamto adalah Komarudin Tobari. Tapi entah mengapa sejak kecil ia dipanggil Kamto. Sejak SMA ia sangat hobi olah raga basket, makanya di kampusnya ia ikut dalam unit kegiatan mahasiswa olah raga. Tubuhnya yang tinggi besar dan keahliannya dalam mengolah bola basket, menjadikannya masuk sebagai pemain inti dalam tim basket UNIB. Saat ini ia kuliah semester 7.

“Kalau saya insyaAllah hari Rabu sudah selesai pak,” jawab Sony singkat.

 Sony Lesten adalah mahasiswa jurusan matematika semester 7 di UNIB. Diantara keempat temannya, dia orang yang paling pendiam, hanya bicara kalau ada yang mengajaknya bicara. Orang berkaca mata minus ini hampir tidak pernah mengajak orang lain bicara, kecuali jika berhubungan dengan matematika. Hari-harinya selalu disibukkan dengan soal-soal dan rumus-rumus matematika. Namun demikian ia sangat aktif membantu kegiatan kajian keislaman di kampusnya, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan komputer.

”Baiklah kalau begitu, Sabtu besok kita berangkat. Adnan, kamu pastikan rute yang akan kita tempuh, juga perijinannya. Falah, Nardi, kamu berdua siapkan tenda dan kelengkapannya. Kamto dan Sony, kamu berdua siapkan perlengkapan navigasi dan kelegkapan P3K nya,” kata pak Eko.

            ”insyaAllah pak,” jawab mereka koor.

”o ya, bagaimana persiapan fisik kalian? tubuh kita mesti fit, karena perjalanan kita nanti sangat jauh. Kalau normal, bisa sampai 4 hari 3 malam,” tanya pak Eko lagi sambil melihat ke Kamto.

"Alhamdulillah kami sudah lakukan semua, pak. Sebulan terakhir ini, setiap pagi saya terus megingatkan teman-teman lewat SMS untuk stretching dan jogging minimal 30 menit. Tiap hari Rabu dan Sabtu sore kami juga renang bersama di kolam renang Ceria, dekat rumahnya Sony. Jadi insyaAllah kami semua sudah siap untuk berjalan kaki melintasi bukit Barisan,” kata Kamto yakin.
”amiin...” kata mereka berbarengan

 Demikianlah kajian pagi itu pun berlanjut dengan obrolan ringan sekitar kehidupan mereka masing-masing. Tak jarang mereka pun tertawa bersama. Dalam obrolan mereka terlihat sangat lepas dan sangat akrab, layaknya sebuah keluarga, saling bersaudara.

 Setelah beberapa lama, mereka menyudahi pertemuan pagi itu. Satu per satu mereka keluar dari rumah pak Eko dengan senyum dan keyakinan. Tersenyum karena telah mendapatkan pencerahan ilmu dan tambahan motivasi kehidupan, juga keyakinan untuk melakukan perjalanan panjang melintasi bukit barisan.

 Pak Eko pun mengantarkan mereka sampai di depan pintu sambil terus mengamati mereka, sangat lekat, seperti ada sesuatu yang sedang diteliti.

”Ya Allah, berilah petunjuk-Mu kepadaku....” gumamnya.


* * *

            Sementara itu di tempat yang lain, sekitar 20 km dari rumah pak Eko, di salah satu rumah yang cukup besar dan asri. Seseorang perempuan setengah baya tampak sedang memberikan kajian ilmu dalam suatu majelis yang semuanya perempuan. Jumlah pesertanya tidak banyak, hanya 10 orang. Mereka duduk di atas karpet dengan posisi melingkar, di dalam ruangan yang besar juga terlihat sangat bersih dan rapi. Di sebelah Barat ruangan tampak deretan buku-buku yang cukup banyak di dalam rak-rak yang juga sangat besar. Sementara di bagian Selatan ada semacam bartender yang di atasnya ada beberapa makanan dan minuman. Jendela yang besar-besar ada di sebelah Timur, yang terlihat masih tertutup. Sedangkan bagian Utara ruangan ada dinding ruangan dan juga tangga turun dan kamar mandi. Di atas dinding itu tampak lukisan kaligrafi yang besar.

”Ingatlah saudariku, bahwa Allah lebih mencintai hambanya yang menjaga diri dari semua hal yang dapat menyebabkan Dia cemburu kepada kita. Biarlah cinta kita semata-mata untuk Allah. Dan biarlah Allah yang akan menentukan siapa yang dikendaki-Nya untuk berbagi cinta kepada kita...”

”Ummi, apakah kita boleh memohon kepada Allah agar seseorang mencintai kita?” salah seorang dari mereka bertanya kepada pembicara.

 Mendengar pertanyaan itu, orang yang dipanggil ummi tadi menjelaskan dengan lembut. ”Anisa, kita boleh meminta apa saja kepada Allah dalam hal kebaikan, karena Allah memang tempat kita meminta. Tapi alangkah baiknya jika kita meminta kepada-Nya, kita minta yang terbaik yang akan Allah berikan untuk kita. Karena bisa jadi yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, padahal yang terbaik menurut Allah itulah yang terbaik untuk kita.”

”Hmm…baiklah, jika memang tidak ada lagi yang dibahas, saya kira kajian hari ini kita cukupkan dulu, insyaAllah pekan depan kita lanjutkan,” kata ummi kemudian menutup kajian pagi itu.

subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu anla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik,” serentak mereka membaca doa penutup majelis.

 Tak lama kemudian, mereka pun bersalaman dan minta pamit kepada ummi. Namun sebelum semuanya ke luar rumah, tiba-tiba ummi memanggil salah satu dari mereka.

”Naila, ummi bisa bicara sebentar dengan kamu? Kamu tidak buru-buru kan?” tanya ummi kepada perempuan berjilbab ungu bermotif.

”Iya ummi, saya tidak buru-buru. Ada apa?” jawab Naila dengan wajah penuh tanya.

Ada yang ingin ummi bicarakan dengan kamu, kita bicara di dalam ya...” kata ummi sambil menggandeng tangan Naila. Sementara itu sambil berjalan ke luar Anisa mengedipkan sebelah matanya kepada Naila. Melihat itu Naila tampak mengerenyitkan dahinya. Entah apa yang dimaksudkan oleh Anisa, mereka berdua lah yang bisa memahami.

”Alhamdulillah ummi ikut senang, akhirnya kamu bisa lulus kuliah dan diwisuda tepat waktu. 4 tahun ya? Subhanallah,” ummi membuka pembicaraan.

”Terima kasih ummi. Iya, tepatnya 3 ½ tahun,” jawab Naila.

”Rencana selanjutnya apa, Naila, S.Sos? apa langsung kerja?” tanya ummi kemudian sambil tersenyum.

        ”Ah, ummi...insyaAllah saya mau menyelesaikan program bahasa arab saya dulu di PBAT, sambil sekalian menyelesaikan hafalan juz 26 yang tinggal satu surat. Rencananya tahun depan baru mau mencoba untuk melamar pekerjaan, mohon doanya,” kata Naila menjelaskan.

Afwan, sebetulnya ada apa ummi memanggil saya?” tanya Naila sambil terus mencoba setenang mungkin, meskipun hatinya sangat berdebar-debar. Sementara fikirannya terus berkelana. Dan tiba-tiba saja kepalanya dipenuhi oleh bayangan-bayangan aneh yang tidak diinginkannya. Tapi entah mengapa ia juga menikmati bayangan-bayangan itu.

”Begini Naila, ummi lihat meskipun umurmu baru 22 tahun, tapi kamu sudah sangat dewasa. Kuliah kamu pun sudah selesai. Apa kamu tidak berfikir untuk segera menikah? Membina rumah tangga?” tanya ummi dengan sangat lembut.

 Mendengar pertanyaan itu, terlihat rona merah di wajah Naila. Naila termasuk perempuan yang pemalu dan hampir tidak pernah memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sejak kecil ia selalu menjaga jarak dengan laki-laki, meskipun tetap saja berteman. Ketika masih duduk di bangku SMP ia sempat ”ditembak” oleh teman laki-lakinya. Tapi ia tetap menolak. Nalurinya lah yang menolak. Karena penolakan itu teman laki-lakinya tadi akhirnya menjauhinya. Namun Naila tetap pada pendiriannya.

 Ketika ia sekolah SMA, wajahnya yang cantik dan perangainya yang lembut juga langganan rangking satu di kelasnya, membuat banyak teman-teman laki-lakinya yang menaruh hati dan bergiliran mencoba ”menembak”nya. Namun ia tetap menolak semua ajakan teman-temannya itu. Hingga suatu kali ia berfikir bahwa ia harus merubah penampilan dirinya. Pada akhirnya, pemain basket yang sempat membawa sekolahnya juara 1 lomba basket antar sekolah di tingkat propinsi ini, memutuskan untuk memakai jilbab ketika naik ke kelas XII. Sekolah pun sempat geger dan teman-temannya hampir tidak percaya. Namun ia tetap memakai jilbabnya sampai ia sekarang. ”Akan terus aku pakai jilbab ini sampai Allah yang menentukannya,” katanya saat menjawab pertanyaan salah satu teman laki-lakinya.

”mmm...ummi, tentunya... saya juga ingin untuk menikah dan membina rumah tangga,” jawab Naila mencoba menguasai dirinya untuk tidak terlihat gugup. Dan bayangan-bayangan itu semakin jelas saja memenuhi kepalanya. Ia pun berulang kali beristighfar.

”Apa kamu siap jika sekarang ada seorang laki-laki yang akan melamarmu?” tanya ummi langsung pada pokoknya.

 Mendengar pertanyaan itu, Naila tampak gugup dan berfikir keras. Akhirnya ia menemukan kaliamat yang tepat untuk menjawabnya, walaupun terlihat gugup.

”mmm...ummi, ijinkan saya untuk menunda jawaban atas pertanyaan ummi tadi, afwan...biar saya berfikir dulu.”

”Baiklah kalau begitu. Untuk kamu ketahui saja, beberapa hari yang lalu ummi diminta oleh seorang teman untuk mencarikan jodoh untuk ”murid binaannya”. Kalau kamu sudah siap, segera kabari ummi ya,” kata ummi lembut.

”Terima kasih ummi,” kata Naila kemudian. Dalam hati ia bersyukur mempunyai sosok ummi yang sangat memahami dirinya. Ummi sudah ia anggap sebagai guru, sahabat, kakak bahkan orang tua keduanya setelah Bapak dan mamahnya di rumah.

 Setelah itu Naila pun mohon diri untuk pamit.

”saya pulang dulu, ummi, sudah agak siang. Assalamualaikum...”

”Waalaikumsalam warahmatullah...” jawab ummi sambil terus memandanginya. Seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam hati muridnya....

 Suasana dhuha pada hari minggu di Bumi Rafflessia terlihat semakin indah dengan jilbab-jilbab yang melambai terhembus angin. Beberapa orang juga terlihat mulai beraktivitas. Deru ombak laut terdengar jelas seakan-akan memanggil orang-orang yang masih berselimut di rumah untuk segera bangun dan keluar menyambut matahari.


* * *

 Falah mengendarai motornya dengan kecepatan rendah selepas kajian di rumah pak Eko tadi.  Tampak juga Adnan, Kamto, Sony dan Nardi di belakang mengikuti dengan motornya masing-masing. Mereka menyusuri jalan yang terlihat cukup ramai dengan orang-orang yang sedang lalu lalang. Tujuan mereka sama yaitu pantai panjang. Disebut pantai panjang karena pantainya sangat panjang, sejauh mata memandang. Hamparan pasirnya sangat luas memanjang di sepanjang pesisir, sehingga banyak orang yang memanfaatkannya untuk berolah raga, seperti sepak bola, main volley, jogging atau bahkan hanya sekadar duduk-duduk saja.

 Pemerintah daerah kota Bengkulu pun tengah mengupayakan menjadikan pantai panjang sebagai tempat tujuan pariwisata internasional. Untuk warga kota Bengkulu, pantai panjang merupakan tempat paling favorit  bagi mereka sebagai tempat untuk melepas lelah setelah satu minggu beraktivitas. Beberapa keluarga tampak membawa serta anak-anaknya untuk sekadar berjalan-jalan dan berolah raga di tepi pantai panjang. Juga tidak sedikit anak-anak muda yang memanfaatkan pantai panjang sebagai tempat untuk berpacaran, nongkrong berdua di bawah pohon kelapa, padahal mereka bukan mahrom. Entah sadar atau tidak akan aturan Allah tentang pergaulan antara laki-laki dan perempuan, mereka terlihat begitu mesra. Yang cewek memegang tangan cowoknya, sementara tangan yang cowok mengusap-usap kepala, pungung dan pinggang ceweknya. Padahal pakaian mereka sangat minim dan seadanya. Astaghfirullah!

 Air laut nya juga masih bersih, tampak biru yang diselingi dengan busa putih ketika berombak. Orang-orang pun seperti terkena magic untuk nyemplung ke laut yang memang aman pada batas tertentu. Dari anak-anak sampai kakek-kakek, laki-laki dan peremuan semuanya mandi dan berenang. Diantara mereka ada juga yang bermain pasir, membentuk sebuah 'bangunan' dan tulisan-tulisan, yang kemudian dengan mudah disapu oleh air laut.

 Para pedagang pun memanfaatkan suasana dengan menjajakan dagangan mereka di tempat yang sudah disediakan oleh Pemerintah daerah. Hampir semua jenis dagangan tumpah di sana. Suasana pun sangat ramai dengan suara-suara pedagang yang menjajakan dagangannya. Ada yang jualan makanan, minuman, pakaian, pernak-pernik, asesoris, mainan anak-anak, alat-alat rumah tangga, bahkan ada juga satu-dua yang menjual sepeda motor.

 Di sana juga ada arena gajah. Gajah-gajah yang jinak sehingga anak-anak bisa naik di punggungnya berkeliling. Para pemain sirkus pun terlihat beratraksi memamerkan keahliannya, juga badut-badut yang terus lalu-lalang menyapa anak-anak untuk berfoto bersama. Sungguh pagi yang ramai diselimuti deru ombak pantai panjang yang tidak pernah habis dinikmati. Pagi yang semarak, seperti mottonya yaitu Bengkulu kota Semarak...

 

*   *   *

 

"Falah, kita parkir di kantor saja, biar ga ribet, jalanan padet banget soalnya," kata Kamto setengah berteriak.

 Seperti sudah tahu yang dimaksud, Falah pun mengarahkan motornya menuju kantor yang diikuti keempat temannya. Setelah sampai mereka langsung memarkirkan motor dan mengganti baju kokonya dengan pakaian oleh raga di kamar ganti yang memang sudah disediakan. Kemudian tas mereka dititipkan di tempat penitipan. Ternyata kantor yang mereka maksudkan adalah gedung dinas pariwisata kota Bengkulu yang letaknya berhadapan dengan pantai panjang. Di sebelah kanan dan kiri kantor tampak berjajar hotel-hotel.

 "ayo stretching dulu, setelah itu jogging," ajak Falah.

"akh Kamto, tafadhol." Kali ini Adnan mempersilahkan.

  Tanpa komando lebih lanjut Kamto langsung ambil bagian memimpin mereka untuk pemanasan. Kemudian Kamto membuat gerakan-gerakan dari kepala sampai kaki yang diikuti oleh yang lainnya. Mereka tampak serius melakukan gerakan-gerakan itu meskipun juga tetap bercanda.

 "sepertinyo perut Kamto lah sixpad neh," kata adnan dengan dialek bengkulu dan sambil mengikuti gerakan kamto

."nah, gitu dong, masa' pemain basket kok gemuk hahahaha…" kata Nardi. "eh, tapi sixpad mana sama perut gue."

"iya sih sixpad punya elo, tenpad malah, tulang iganya hahaha…" kata Kamto tidak mau kalah.

Mereka pun tertawa bersama kecuali Nardi yang mengerenyitkan dahi. Kemudian seperti tidak mau kalah Nardi menimpali lagi.

"eit jangan salah, emang bener tenpad, sixpad di perut dan fourpad di iga, kan keren hehe…"

Mereka pun tertawa kembali. Setelah melakukan pemanasan kemudian mereka jogging di pantai, sit up, back up dan dilanjutkan berenang di laut. Untuk berenang di laut kemampuan berenang Nardi terlihat lebih dominan dibanding teman-temannya, meskipun ketika berenang di air tawar Falah lebih unggul. Ini terlihat ketika mereka berenang bersama di kolam renang Ceria. Falah selalu nomor satu ketika mereka berkompetisi dua putaran bolak-balik di kolam yang panjangnya lima puluh meter itu. Berenang di laut membutuhkan kegesitan karena ombaknya lebih besar dari pada di kolam renang yang airnya tenang. Jangan melawan ombak tapi kita harus memanfaatkan ombak, kata Nardi ketika ditanya tentang trik berenang di laut. Sementara jika berenang di air tawar cukup dengan menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendorong badan ke depan.

 "Btw, gimana kelanjutan "proses" ente? Jadi ga?" tanya Falah pada Adnan ketika mereka istirahat sambil minum kelapa muda di tepi pantai. Sementara Nardi dan Kamto masih saja bermain-main di laut, dan Sony sudah sibuk dengan laptop yang selalu dibawanya. Sepertinya laptop sudah seperti handphon bagi Sony, yang selalu di bawa kemanapun pergi.

 "sepertinyo belum Fal, idak ado piti, modal ambo blom cukup," jawab Adnan sambil memandang lepas ke laut.

 "kurang apa lagi Nan? Kerja udah mapan, penghasilan udah pasti, kendaraan punya, apa lagi yang kurang?"

 "waang tau sendiri lah gimano bak ambo. Ambo  mesti punya rumah dulu, nah ambo idak punyo piti buat beli rumah sekarang. Blom lagi untuk prosesi pernikahan adat yang sangat panjang, pastilah butuh piti  yang idak sedikit."

 "Sudah ente jelasin kalo semua itu semuanya butuh proses? Dan untuk prosesi pernikahan tidak perlu secara adat yang mahal dan memberatkan"

 "sudah lah, ambo udah berkali-kali ngasih penjelasan, tapi bak indak  mau tahu. Pokoknya ambo mesti punya rumah dulu, baru menikah. Dan nikahnyo jugo pake adat."

 "Hmm…susah juga ya, ya udah sabar saja akhi, insyaAllah nanti ada jalan dan dimudahkan oleh Allah."

 "Amin." Kata mereka bersamaan.

 Untuk beberapa saat mereka saling diam, sibuk dengan fikirannya masing-masing. Pandangan Adnan kosong  menatap laut dan hamparan pasir pantai. Sementara Falah menyedot air kelapanya. Ia berfikir ternyata tidak mudah merubah pendapat orang tua, bahkan untuk hal-hal yang baik. Ia membayangkan jika semua orang tua di Bengkulu seperti orang tua Adnan, apa jadinya nanti. Proses mengarah ke kehidupan yang lebih baik dan halal dengan menikah begitu rumit, sementara untuk proses perceraian begitu mudah. Karenanya tidaklah heran ketika banyak diantara pemuda-pemuda seusia Adnan tidak berani menikah, tapi malah berani menabrak kaidah-kaidah agama. Pergaulan bebas, sex after lunch di tempat kerja, atau bahkan pergi ke tempat-tempat maksiat untuk melampiaskan libidonya yang justru dilarang agama seakan menjadi solusi. Padahal sebetulnya ajaran Islam sangat mudah mengatur pernikahan. Cukup ada pasangan pengantin, mahar dari pihak laki-laki dan dua orang saksi. Sementara untuk walimatul 'ursy sunnah saja dan semampunya, prosesnya begitu mudah dan murah.

 "ah, masih banyak yang harus dilakukan, membenahi masyarakat agar lebih baik," batinnya.

 "hei di pantai kok pada ngelamun. Gue pulang duluan bang, mau blajar, besok masih ada ujian. Assalamualaikum…" kata Kamto mengagetkan Adnan dan Falah.

 "waalaikumsalam," jawab mereka serentak

 "good luck ya." Kata Falah

 Sementara Nardi sudah duduk di samping Falah dan memesan kelapa muda. “Minta satu lagi degannya bang,” kata dia.

 "saya juga pulang dulu bang, assalamualaikum." Kata Sony datar dan langsung meninggalkan mereka.

 "oh ya, waalaikumsalam," koor mereka bertiga menjawab.

 Sesaat kemudian abang penjual kelapa muda itu menghidangkan kelapa muda pesanan Nardi. Untuk sekian waktu mereka bertiga ngobrol tentang banyak hal. Tentang kepengurusan Falah di BEM, tentang kondisi politik nasional, tentang skripsi Nardi yang tidak juga selesai, tentang pekerjaan Adnan yang harus sering keluar-masuk hutan, dan juga tentang cinta dan pernikahan. Untuk topik yang terakhir ini mereka tampak sangat serius membahasnya. Maklumlah di usia mereka topik semacam itu memang menjadi bahan pembicaraan yang menarik dan tidak pernah habis.

 iyo, ambo blom bisa nikah dalam waktu dekat ini. Rencananyo mungkin duo atau tigo tahun lagi kalo pitinyo  lah cukup, insyaAllah. Doakan sajo yo,” kata Adnan setelah menguraikan lagi kendala dia mengapa belum menikah juga.

 ”yo wis, mengko tak dungoke, tapi jangan salahke aku kalo ntar aku duluan yang nikah ya hehe,” kata Nardi sambil tertawa. ”Kalau sampean gimana Fal? Udah banyak akhwat yang nunggu loh. Aku lihat sepertinya ada beberapa orang yang  sering telpon sampean di kos, seperti Maya, Ulfa, Desi.”

 ”Mereka itu temen-temen saya di BEM, Di. Kamu jangan berfikir macam-macam dengan mereka. Mereka itu akhwat beneran, bukan ikhwit cihuy,” kata Falah.

 ”hahaha ikhwit cihuy...ada-ada saja sampean,”

 ”Sampai sekarang saya belum berfikir ke arah sana, tepatnya sih belum sempat mikir ke sana. Saya malah berfikir gimana caranya menyelesaikan amanah di BEM dan menyukseskan proses pergantian kepengurusan, setelah itu mau ngurusin skripsi. Jadi kayaknya masih agak panjang,” kata Falah lagi.

 ”Nan, Di, udah jam 10, pulang yuk. Saya ada kerjaan di kos, mau nyiapin materi untuk ngisi acara pelatihan di fakultas.”

 ”amboy waang ni, hari minggu gini masih jugo ado ’orderan’.” kata Adnan.

 ”Biasalah, namanya juga ketua BEM. Pastilah sibuk dipake dimana-mana. Yuk kita pulang, aku juga mau latihan.” kata Nardi sambil berdiri sambil mau membayar kelapa muda ke penjualnya.

 ”biar ambo lah yang bayar, ambo kan sudah kerja dan waang belum,” kata Adnan langsung menyerahkan uang ke penjual.

 Begitulah Adnan hampir selalu membayari teman-temannya ketika makan atau minum di luar. Bagi Adnan dan Nardi yang masih mahasiswa tentu sangat membantu, karena mereka masih kuliah dan belum bekerja tetap. Namun demikian ada kalanya Falah tidak mau dibayari terus. Dia merasa tidak enak jika terus-terusan ditraktir oleh Adnan, karena sangat menjaga harga diri. Sekali waktu dia yang membayar. ”Saya juga punya uang hasil ngelesin anak-anak SMA, jadi boleh juga dong saya beramal,” kata Falah sewaktu membayari makan pempek bersama Nardi, kamto, Sony dan Adnan. Lain halnya dengan Nardi yang sangat senang jika dibayari, meskipun dia tidak pernah mengandalkan.


Kemudian mereka bertiga berjalan ke tempat parkir untuk mengambil motor dan tas. Falah memakai jaket kuit dan sarung tangannya yang juga terbuat dari bahan kulit. Ia selalu memperhatikan kelengkapan safety dalm mengendarai motor. Sepatu, celana panjang, jaket, sarung tangan dan helm adalah kelengkapan satndar yang selalu ia pakai ketika mengendarai motor. Sebelum Falah menghidupkan motornya, tiba-tiba dering hapenya berbunyi. Dia lihat sebentar, tidak ada nama, hanya nomor telpon.

 ”Halo, assalamualaikum. ini siapa?” tanya Falah setelah menekan tanda yes.

 ”Waalaikumsalam. Saya Hadi kak, panitia PKM Fisip. Saya cuma mau mengingatkan nanti siang jam dua kakak ngisi materi tentang kepemimpinan. Bisa kan kak?” kata suara di seberang.

 ”iya, insyaAllah bisa. Tempatnya tetap di kampus kan?”

 ”iya kak, di gedung fisip ruang tiga kosong tiga. Ya udah, terima kasih kak. O ya, kami sudah menyiapkan laptop dan LCD kalau kakak perlu.”

 ”oh ya, insyaAllah nanti saya pakai.”

 ”Ya udah, terima kasih kak. Assalamualaikum.”

 ”waalaikumsalam.”

 Klik

 ”siapa Fal?” tanya Nardi.

 ”itu, panitia PKMF ngingetin buat acara nanti siang. Yuk kita pulang,” kata Falah sambil mengengkol motornya.

 Yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka bergerak ke arah yang sama sampai di perempatan dekat kantor kecamatan mereka berpisah. Falah langsung pulang ke kos di daerah sungai hitam, dekat kampus UNIB. Nardi ke arah pasar minggu, mau latihan karate katanya. Sedang Adnan pulang ke rumahnya yang berada di belakang kantor kecamatan.


*  *  *

 



 

bersambung...

 


Add a Comment